Wednesday, April 14, 2010

Ibadah Kristen
Apa dan Bagaimana?
Pdt. Juswantori Ichwan, M. Th.
(sumber utama: http://www.sahabatsurgawi.net/bina%20iman/ibadah_kristen.html)



A. Apa Itu Liturgi?
Apakah ibadah Kristen itu ? Dalam bahasa Inggris, istilah yang dipakai untuk "ibadah” adalah worship, yang berasal dari kata Inggris kuno weorthscipe. Weorth (=worthy) berarti "layak" dan scipe (=ship) menunjukkan atribut respek atau hormat kepada seseorang. Jadi, ibadah (worship) adalah suatu pemujaan; pernyataan hormat kepada Tuhan yang dianggap layak disembah. Dalam bahasa Ibrani (PL), dipakai kata shachah yang berarti "menundukkan diri." Dalam bahasa Yunani (PB) digunakan kata proskuneo yang berarti menyembah atau "mencium tangan kepada." Jadi, ibadah adalah

ungkapan penyembahan manusia di hadapan AllahNya. Namun dalam ibadah Kristen, komunikasi yang terjadi bukan hanya satu arah, melainkan dua arah. Martin Luther mendefinisikan ibadah sebagai saat dimana Allah berbicara kepada jemaat lewat FirmanNya (revelation) dan jemaat berbicara kepadaNya (merespons) dalam doa dan pujian. Jadi, dalam ibadah terjadi dialog (komunikasi) antara Allah dan jemaat. Masing-masing saling berinteraksi. Tuhan lebih dahulu berinisiatif menyatakan diri, baru kemudian jemaat menanggapi. Adanya dua pihak yang terlibat ini tergambar jelas dalam istilah bahasa Jerman untuk "ibadah": Gottesdienst. Kata ini bermakna ganda: Pelayanan Allah (God's service) dan pelayanan kita kepada Allah (our service to God).
Menarik sekali, bahwa kata "liturgi' berasal dari kata berbahasa Yunani: leitourgia. Asal katanya adalah laos (artinya rakyat) dan ergon (artinya pekerjaan). Jadi, liturgi adalah pekerjaan publik atau pekerjaan yang dilakukan oleh rakyat/jemaat secara bersama-sama. Jadi, liturgi adalah kegiatan peribadahan dimana seluruh anggota jemaat harus terlibat secara aktif dalam pekerjaan bersama untuk menyembah dan memuliakan nama Tuhan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa "liturgi" adalah "ibadah." Setiap ibadah Kristen (apapun denominasinya) harus bersifat liturgis; artinya melibatkan setiap orang yang hadir didalamnya. Ibadah dimana jemaat hanya menjadi penonton yang pasif bukanlah ibadah sesungguhnya. Oleh karena semua anggota jemaat harus terlibat aktif, perlu ditentukan kapan giliran mereka berpartisipasi dalam ibadah dan bagaimana bentuk partisipasinya (apakah menyanyi, berdoa, memberi persembahan, dll). Dari sini muncullah "tata ibadah"yang mengatur giliran partisipasi setiap orang. Tata ibadah sering disebut liturgi dalam arti sempit.
Banyak orang memiliki konsep yang keliru tentang ibadah. Kita cenderung memandang ibadah seperti pertunjukan teater. Yang menjadi aktor adalah pendeta dan pelayan ibadah lainnya. Penontonnya adalah anggota jemaat yang hadir, sedangkan sutradaranya adalah Tuhan. Konsep ini keliru karena memandang jemaat hanya sebagai penonton! Soren Kierkegaard, seorang teolog Eropa abad ke-19, mengatakan bahwa dalam ibadah Kristen, aktornya adalah jemaat. Sutradaranya adalah para pelayan ibadah (pendeta, liturgos, pemusik), sedangkan penontonnya adalah Tuhan! Tata ibadah adalah skenario drama yang harus dimainkan oleh anggota jemaat sebagai para pemeran.

B. Ibadah yang Hidup.
Setiap gereja tentu ingin memiliki ibadah yang hidup dan menyegarkan. Belakangan ini banyak orang mencoba membuat ibadah di jemaatnya `lebih hidup' dengan mengganti liturgi yang ada dengan liturgi yang lebih populer atau trendy. Yang lainnya mengubah jenis nyanyian atau alat musik yang dipakai. Cara ini memang bisa membuat ibadah lebih semarak, lebih ramai, lebih populer, namun belum tentu menjadi lebih hidup! Sebuah ibadah baru dikatakan hidup jika melaluinya terjadi penyatuan dengan Allah (union with God), dimana lewat komunikasi selama ibadah, jemaat menjadi "sehati sepikir" dengan Allah. Jemaat menjadi sadar apa yang menjadi kehendak Allah bagi mereka. Apa hasilnya? Tuhan dimuliakan (glorification) dan orang percaya dikuduskan (sanctification). Jadi, ibadah yang hidup adalah ibadah yang melaluinya seseorang bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan perjumpaan itu mentransformasi hidupnya. Orang bisa rnerasakan kehadiran Tuhan menyapa mereka.
Sebenarnya Tuhan hadir dimana-mana, tidak hanya di gedung gereja saat ibadah berlangsung. Namun demikian, kerapkali kita lebih dapat merasakan kehadiran Allah dalam ibadah di gereja, sebab pada saat itu kita benar-benar memfokuskan diri kepada Tuhan. Hal ini dapat diumpamakan seperti selembar kertas yang tergeletak di sebuah lapangan parkir pada siang hari yang panas. Cahaya matahari bersinar merata di segala sudut, namun tidak dapat membakar kertas itu. Hanya jika ada orang membawa kaca pembesar lalu memfokuskan cahaya matahari ke atas kertas itu, kertas dapat terbakar. Begitu pula dalam ibadah. Saat jemaat sungguh mengarahkan hatinya kepada Tuhan, barulah mereka dapat merasakan hadirNya dan ditransformasi olehNya.
Persoalannya, bagaimanakah liturgi GKI bisa menciptakan transformasi hati didalam ibadah? Untuk itu kita perlu melakukan 'bedah liturgi' lebih dahulu. Kita perlu memahami benar pola dasar liturgi kita, sebelum bisa membangun strategi untuk menghidupkan ibadah lewat liturgi kita.

C. Mengenal Pola Ibadah Kita
Liturgi yang kita pakai dikenal juga dengan nama The Fourfold Pattern of Worship (Empat Langkah Pola Ibadah). Pola ini diambil dari Yesaya 6:1-9 yang menjelaskan bagaimana nabi Yesaya menghadap Tuhan. Mari kita melihatnya lebih jauh.

LANGKAH PERTAMA: BERHIMPUN
Nyanyian Prosesi berfungsi menyatukan hati jemaat untuk datang menghadap Tuhan (Contoh: KJ 15 - "Berhimpun Semua"). Setelah itu, diadakan seremoni Penyerahan Alkitab (entry of the Bible) dari pemimpin ibadah kepada Pendeta,untuk menunjukkan bahwa ibadah didasari oleh Firman Tuhan. Pendeta lalu mengucapkan Votum dengan mengutip Mzm 124:8 "Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN yang menjadikan langit dan bumi." Lewat votum, jemaat mengaku bahwa mereka dapat beribadah hanya karena Tuhan memanggil dan rnenolong: menghimpun mereka menjadi satu. Pengakuan itu diaminkan dengan nyanyian "Amin." Selanjutnya, Pendeta menyampaikan Salam (greeting saluation) untuk mengingatkan jemaat bahwa Kristus hadir di tengah-tengah mereka. Lalu, untuk lebih menyatukan jemaat dan memfokuskan perhatian mereka pada ibadah, Pendeta memberikan Kata Pembuka. Bisa dengan membacakan Nats Pengantar yang akan mewarnai topik dialog hari itu, atau menyampaikan informasi tentang tema, tahun liturgi, atau memperkenalkan pengkhotbah tamu dari jemaat/gereja lain., sehingga mereka tidak lagi menjadi orang asing, melainkan dihimpun dan dipersatukan dengan jemaat.
Setelah dipersatukan, kini jemaat dibawa menghadap hadirat Tuhan dalam doa. Karena jemaat hadir sebagai umat yang berdosa di hadapan Allah yang suci, diadakanlah ritual Pengakuan Dosa. Setelah doa pengakuan dipanjatkan, Berita Anugerah (assurance of pardon) disampaikan. Pendeta sebagai hamba Allah menyatakan janji pengampunan Tuhan yang obyektif (tertera di dalam Alkitab), bukan subyekif (diampuni karena kuasa gereja). Ketika menerima pengampunan dosa, jemaat diperdamaikan kembali dengan Allah dan sesamanya. Oleh sebab itu mereka lalu saling bersalaman sambil berkata "Damai besertamu" (Peace be with you) dalam ritus Salam Damai (peace). Dalam liturgi lama, masih dibacakan Petunjuk Hidup Baru. Mengapa? Karena orang yang sudah diampuni dosanya harus diberi nasehat agar tidak jatuh lagi ke dalam dosa yang sama. Petunjuk Hidup Baru merupakan sebuah nasehat positif, yang direspons dengan Nyanyian Kesanggupan, sebagai pernyataan tekad bahwa jemaat bersedia mematuhi petunjuk itu. Dalam liturgi baru, Petunjuk Hidup Baru dimasukkan dalam langkah kedua: Firman. Setelah lagu kesanggupan dinaikkan, langkah pertama selesai. Jemaat telah berhimpun dan membereskan dosa-dosanya. Kini mereka siap menerima Firman Tuhan.

LANGKAH KEDUA: FIRMAN
Sebelum Firman Tuhan dibacakan, dinaikkan Doa Penerangan (prayer of illumination). Mengapa? Karena untuk dapat mengerti FirmanNya, hati kita perlu diterangi oleh kuasa Roh Kudus (2 Kor 3:14-16). Setelah itu barulah diadakan Pembacaan Alkitab. Dalam liturgi lama, hanya satu bagian Alkitab yang dibacakan. Namun dalam liturgi baru, dibacakanlah satu set bacaan (lection), mengikuti daftar bacaan (leksionari).Di antara pembacaan diselingi nyanyian Mazmur atau himne. Setelah itu, khotbah disampaikan.Gereja Reformasi berpandangan bahwa Allah menyatakan diriNya dalam ibadah lewat Alkitab yang dibacakan dan dikhotbahkan. Saat Firman dibacakan dan dikhotbahkan, Yesus Kristus sendiri hadir di tengah jemaat dan menyapa jemaat. Tugas pengkhotbah adalah "menghidupkan” kata-kata dalam Alkitab hingga menjadi relevan bagi pendengar masa kini. Setelah mendengarkan Firman, jemaat memberi tiga jenis respons.
Respon pribadi dalam bentuk Saat Teduh. Jemaat masuk dalam keheningan untuk merenungkan apa makna firman yang baru disampaikan bagi mereka.
Respon bersama dalam bentuk Pengakuan Iman (Affirmation of Faith). Pengakuan Iman berisi rangkuman seluruh isi Injil. Ketika mengucapkannya, jemaat menegaskan kembali keyakinan mereka (" Aku percaya" ) akan berita Firman yang telah diberitakan. Pengakuan Iman juga mempersatukan jemaat sebagai bagian dari gereja segala abad dan tempat.
Respon bersama sebagai Imamat Rajani, dengan menaikkan Doa Syafaat bagi dunia (Prayers of the People). Lewat doa syafaat jemaat "menjangkau dunia." Oleh sebab itu doa syafaat hendaknya tidak hanya bersifat lokal, melainkan "seluas kasih Tuhan dan sama spesifiknya seperti belas kasihNya pada orang yang terlemah di antara kita." Doa syafaat ditutup dengan Doa Bapa Kami; induk segala doa.

LANGKAH KETIGA: PENGUCAPAN SYUKUR
Setelah menerima Firman, jemaat mengucap syukurr. Langkah ini diawali dengan memberi Persembahan. Di jemaat mula-mula, orang Kristen membawa roti dan air anggur sebagai persembahan, yang ditaruh di dekat pintu masuk. Ketika ibadah berlangsung, para diaken menyisihkan sebagian persembahan itu untuk dipakai pada Perjamuan Kudus. Setelah pemberitaan firman selesai, roti dan air anggur dibawa masuk menuju meja altar dan Perjamuan Kudus pun dimulai. Roti dan anggur adalah makanan dan minuman sehari-hari masyarakat Timur Tengah. Mempersembahkan makanan dan minuman ke meja altar merupakan lambang persembahan hidup bagi Tuhan (Rom 12:1 ). Melaluinya jemaat mengakui: "Dari pada-Mulah segala-galanya , dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu" (1Taw 29:14). Selain roti dan air anggur, jemaat mula-mula juga mengumpulkan persembahan uang untuk orang miskin sesudah kebaktian selesai (di kotak persembahan). Uang itu, beserta sisa roti dan air anggur dibagikan kepada orang miskin.

LANGKAH KEEMPAT: DIUTUS KE DALAM DUNIA
Langkah terakhir dalam liturgi adalah mempersiapkan jemaat kembali berkiprah dalam dunia sehari-hari. Ibarat mobil yang sudah diservis, jemaat kini harus bertugas kembali di dalam dunia. diutus ke dalam dunia.Ibadah di gedung gereja harus dilanjutkan dengan ibadah dalam hidup sehari-hari. Untuk menyiapkannya, jemaat perlu diutus.Bentuknya berupa Nyanyian Pengutusan yang berfungsi menegaskan kembali pesan Firman Tuhan hari itu, sekaligus mengekspresikan tekad jemaat untuk siap diutus ke dalam dunia. Juga dalam bentuk rumusan kalimat Pengutusan (charge) yang diberikan oleh Pendeta. Agar sanggup melakukan tugas pengutusannya, dibutuhkan berkat. Oleh sebab itu Pengutusan disusul dengan Berkat (blessing/ benediction)," yang diambil dari Ul 6:24-26, Rom 15:13, atau rumusan lainnya. Berkat disambut dengan aklamasi "Haleluya!" (atau "Hosiana”/"Maranatha" sesuai tahun liturgi). Pada akhir ibadah, diadakan Penyerahan kembali Alkitab yang menandai kebaktian telah dijalankan sesuai Firman Tuhan.

D. Bagaimana Menghidupkan Liturgi?
Ada tiga faktor yang mempengaruhi hidup-tidaknya sebuah ibadah. (1) Faktor Pribadi; (2) Faktor Liturgi; (3) Faktor Gereja. Jika ketiga faktor di atas bisa bekerjasama dengan baik, terjadilah ibadah yang hidup. Sebaliknya, jika ketiga faktor diatas tidak dapat berkerjasama atau terjadi disintegrasi di antaranya, maka ibadah akan berjalan secara mekanis. Muncullah ritualisme, dimana orang menjalankan ritual ibadah tanpa penghayatan. Misalnya:
Faktor pribadi. Sepasang suami-istri baru saja bertengkar, lalu mengikuti ibadah dengan hati jengkel. Selama beribadah mereka tidak dapat berkonsentrasi menyembah Tuhan. Muncul ritualisme karena faktor pribadi.
Faktor liturgi. Seorang anggota jemaat tidak pernah mendapat pendidikan liturgi. Walaupun sudah bertahun-tahun ikut beribadah, ia tidak tahu apa artinya votum. Ia menganggap Pengakuan Iman Rasuli adalah doa bersama_ Ia tidak tahu mengapa harus ada Doa Pengakuan Dosa sebelum pemberitaan Firman. Akibatnya, setiap minggu ia menjalankan ritual-ritual itu secara mekanis, tanpa mengerti maknanya. Terjadilah ritualisme karena faktor liturgi.
Faktor gereja. Yang dimaksud adalah sarana-prasarananya (gedung gereja dan peralatan ibadahnya) serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola ibadah. Jika suara Pendeta di mimbar tidak dapat jelas terdengar karena masalah sound system, ibadah pasti terganggu. Juga nilai SDM-nya tidak siap (misalnya: khotbah tidak jelas atau iringan musik tidak dapat menggugah jemaat mengekspresikan isi hatinya).
Untuk menciptakan ibadah yang hidup, ketiga faktor di atas perlu menyatu dan berkerjasama dengan baik, sehingga terjadilah ritual yang sinergistik (saling mendukung). Untuk menentukan hidup matinya sebuah ibadah, Douglas Erickson membuat garis skala partisipasi seperti terlihat dalam gambar berikut. Erickson berpendapat bahwa skala partisipasi seseorang dalam ibadah berubah-ubah di antara nilai 0 sampai dengan 10 di sepanjang ibadah. Ibadah yang hidup terjadi jika skala pratisipasi bergerak makin ke kanan, namun dalam prakteknya, skala partisipasi tiap orang berubah-ubah di sepanjang kebaktian!

E. Faktor Pribadi
Setiap pribadi yang hadir dalam ibadah sangat menentukan tercapai atau tidaknya ibadah yang hidup. Sehebat apapun disain sebuah ibadah, jika anggota jemaatnya tidak punya hati yang sungguh-sungguh ingin beribadah, tidak dapat menciptakan ibadah yang hidup. Mari kita melihat hambatan-hambatan apa saja yang dapat menghalangi anggota jemaat beribadah bisa berpartisi secara penuh dalam ibadah.
Adanya Masalah pribadi. Pergumulan hidup, kesehatan yang terganggu, rasa bersalah, krisis iman, semuanya dapat membuat seseorang tidak dapat berkonsentrasi dalam ibadah dan berpartisipasi sepenuhnya. Begitu pula jika seseorang datang beribadah dengan motivasi yang keliru (misalnya, untuk mencari jodoh), maka hatinya menjadi tidak dapat sungguh-sungguh beribadah.

Konsep yang keliru. Banyak orang datang ke gereja dengan pola pikir yang konsumtif. "Saya harus mendapat sesuatu" dalam ibadah, bukannya "saya harus menyumbangkan sesuatu." Mereka menempatkan diri sebagai penonton, bukan sebagai pemain yang turut rnenentukan hidup-tidaknya ibadah.

Hatinya belum diterangi, Ibadah Kristen hanya bisa bermakna bagi mereka yang sudah diterangi hatinya oleh Roh Kudus (illumination of the heart). Orang hanya bisa mengalami perjumpaan dengan Allah jika hatinya telah"diterangi” (2Kor 13:14-16), dalam artian ia telah memiliki iman kepada Kristus (Kis 26:18, Rom 8:5, Why 21:5, Yoh 9:39). Jika anggota jemaat belum lahir baru, sulit baginya untuk dapat menikmati ibadah. Baginya, ritus-ritus ibadah hanyalah ritual kosong yang membosankan.

Tidak memahami tata ibadahnya. Jemaat perlu memahami apa yang terjadi di dalam ibadah. Mengapa kita beribadah seperti sekarang ini? Bagaimana melakukannya dengan benar?Disini diperlukan penerangan pikiran (illumination of the mind). Mereka memerlukan pengetahuan tentang liturgi.

Bagaimana kita dapat menolong jemaat mengatasi hambatan-hambatan ini?

1.Berikan jemaat waktu untuk hening. Jika jemaat hadir dengan pikiran yang kusut atau hati yang jengkel, mereka perlu menenangkan diri lebih dulu agar dapat memasuki suasana ibadah. Kita dapat menolong dengan memberikan mereka kesempatan berdiam diri di hadapan Tuhan. Kesadaran dan kepekaan akan Tuhan bisa muncul di tengah keheningan. Suasana hening bisa kita sediakan sebelum ibadah dimulai, jika perlu diiringi musik lembut yang meneduhkan hati. Dalam Doa Pengakuan Dosa, jemaat dapat diberi kesempatan untuk berdoa pribadi lebih dulu sebelum Pemimpin menaikkan doa bersama. Sesudah khotbah disampaikan, keheningan dapat diciptakan dengan memberikan waktu teduh agar jemaat dapat merenung. Doa dan Pembacaan Alkitab juga jangan dilakukan secara terburu-buru. Berikan waktu diam selama 5-6 hitungan sebelum seseorang memimpin doa atau membaca Alkitab, sehingga jemaat mendapat kesempatan untuk mengarahkan hati pada Tuhan.

Berikan pendidikan/formasi liturgi pada jemaat. Untuk bisa beribadah dengan baik, jemaat harus familiar dan menguasai liturginya (predictable). Jika tidak, mereka akan merasa menjadi orang asing (outsider) dan tidak bisa menikmati ibadah. Menguasai liturgi sama seperti belajar menyetir mobil atau bermain piano: Pertama-tama terasa kaku, namun pengulangan ribuan kali membuat kita makin mahir. Dengan mengulang ritus-ritus dari minggu ke minggu, liturgi akan menyatu dengan jemaat dan menjadi bagian dari gaya ibadah mereka. Oleh sebab itu, kepada anggota jemaat yang baru, perlu kita informasikan tata ibadah yang dipakai, agar mereka bisa mempelajarinya. Tata ibadah juga sebaiknya jangan sering diubah-ubah.Jemaat membutuhkan kontinuitas. Kalaupun diubah, jangan terlalu radikal. Bedakan mana elemen yang tetap (ordinarium) dan mana yang variabel (proprium). Ingat bahwa ibadah bukanlah tontonan film di TV yang harus terus menerus diganti supaya orang tidak bosan. lbadah adalah sebuah ritual untuk menghadap Tuhan yang harus menyatu dengan jemaat.
Lebih jauh lagi, jemaat juga harus mengerti mengapa mereka beribadah seperti sekarang ini. Mengapa urutannya dibuat sedemikian rupa? Apa artinya Votum? Kita perlu memahami dan memdalami tata ibadah yang kita pakai. Tanpa semuanya itu, kita tidak mampu menghayatinya sungguh-sungguh.
F. Faktor Liturgi
Liturgi harus disusun sedemikian rupa sehingga berfokus pada tema yang ditetapkan. Baik pemilihan lagu, nats, maupun doa-doa yang dinaikkan, semuanya harus berfokus pada tema liturgi. Hambatan yang sering muncul adalah:
Liturgi tidak dapat mengekspresikan dengan tepat apa yang menjadi pergumulan jemaat, sehingga jemaat tidak merasa terlibat didalamnya.
Liturgi sarat dengan kata namun miskin refleksi dan aksi. Ini dapat membuat ibadah terasa terlalu verbal: hanya menyentuh pikiran tetapi tidak menyentuh hati.
Untuk mengatasi hambatan ini, apa yang dapat kita lakukan?
Carilah kata-kata yang tepat; yang dapat mengungkapkan pergumulan iman jemaat dengan tepat. Kita memerlukan kata yang tepat untuk mengeskpresikan pergumulan iman jemaat. Kita dapat mencarinya dari Alkitab, buku-buku liturgi/ doa tertulis (written prayer), atau membuatnya sendiri dari kalimat yang dipilih dengan cermat. Walaupun doa spontan itu baik, namun ada kelemahannya: orang cenderung memakai kata-kata yang terbatas dan berulang-ulang karena kekurangan waktu berpikir. Disini doa tertulis dapat menolong.
Libatkan partisipasi multi-indera (Multisensate Participation). Ketika Kristus diutus menjadi manusia, orang bisa melihat Allah lebih jelas karena kehadiranNya dapat ditangkap oleh panca indera. Dalam ibadah modern-pun diperlukan komunikasi multi-indera, bukan hanya komunikasi verbal. Komunikasi non-verbal dapat diwujudkan dalam tindakan, raut wajah, gerak tubuh seperti berdiri, berlutut, menengadah, mengangkat tangan (orans), berpegangan tangan, memegang roti/cawan, berjalan, dll. Ini akan menolong jemaat mengekspresikan imannya secara lebih maksimal. Namun semuanya perlu disesuaikan dengan konsensus yang berlaku di jemaat setempat.
Libatkan Anggota Jemaat dalam liturgi. Karena gereja adalah Imamat Rajani, anggota jemat harus diberi peran dalam ibadah, sesuai karunia masing-masing.
a. Paduan Suara (choristers). Peran paduan suara yang utama bukanlah unjuk kebolehan, melainkan menolong jemaat bernyanyi.
d.Cantor/Cantoria. Selain memimpin jemaat bernyanyi, ia dapat memperkenalkan lagu baru kepada jemaat dan mengoreksi kesalahan menyanyi.
e. Lektor. Sejak ibadah di sinagoge, kitab Taurat dibacakan oleh saIah seorang lelaki dewasa yang hadir (bdk. Luk 4:16-17). Tradisi pembacaan Alkitab oleh anggota jemaat perlu dilanjutkan. Kita dapat menunjuk anggota jemaat untuk dilatih membaca Alkitab dengan hidup. Disini diperlukan latihan dan pendampingan.
F. Faktor Gereja
Berbicara tentang faktor gereja, kita perlu menyinggung dua hal: sarana-prasarana yang ada (gedung, perlengkapan, peraturan gereja, maupun iklim jemaatnya), dan Sumber Daya Manusianya.
Sarana-prasarana. Akustik ruang ibadah, pengaturan suara (sound system), maupun tata ruang bisa mempengaruhi suasana ibadah. Oleh sebab itu, perhatikan beberapa saran berikut ini.

1. Persiapkan segala peralatan sebelum ibadah. Saat ini banyak gereja mengandalkan alat elektronik (microphone, LCD proyektor, alat musik elektronik) dalam ibadah. Ini disebut dengan Hightech Worship. Kelemahan high-tech worship adalah ketergantungannya pada aliran listrik dan alat-alat elektronik. Jika tidak bekerja dengan baik, kebaktian menjadi kacau. Oleh sebab itu, gereja dengan high-tech worship harus benar-benar mempersiapkan peralatannya sebelum ibadah dimulai.

2. Ciptakanlah "Suasana Gereja." Ruang ibadah adalah "jendela sorga." Ia adalah sanctuary: tempat berteduh bagi jiwa yang penat. Oleh sebab itu hindarilah kabel-kabel yang berserakan. Tata cahaya, rangkaian bunga, tanaman, lilin, kaca patri berwarna, bendera dengan warna liturgis, suara lonceng, semuanya dapat menciptakan suasana religius yang menolong orang menyadari kehadiran Tuhan. Jika perlu, dekorlah ruang ibadah sesuai dengan tema atau suasana yang ingin diciptakan dalam ibadah.

Sumber Daya Manusia. Para petugas ibadah (Pengkhotbah, Liturgos, Pemusik, Paduan Suara, dll) sangat mempengaruhi tercipta atau tidaknya ibadah yang hidup.
Pengkhotbah yang tidak siap bisa mengacaukan ibadah.
Pemusik yang keliru memainkan tempo atau gaya lagu dapat menghambat jemaat bernyanyi dengan sepenuh hati.
Liturgos yang mengucapkan kalimat-kalimat klise membuat ibadah tidak mengalir lancar dan jemaat merasa bosan.
Paduan Suara yang menyanyikan lagu yang tidak sesudai dengan tema ibadah dapat mengacaukan fokus ibadah.
Disini diperlukan kerjasama yang baik antar pelayan ibadah, agar segala unsur yang terlibat dapat berpadu menjadi kesatuan yang sinergis. Hal ini akan kita kupas lebih jauh dalam sesi selanjutnya. Namun, secara garis besar, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
1. Setiap pelayan ibadah harus berdedikasi. Syarat utama pelayan ibadah adalah adanya dedikasi. Dedikasi (to dedicate) artinya melakukan sesuatu dengan kerelaan berkorban (baik waktu, tenaga, pikiran dan perasaan) karena yakin bahwa apa yang dilakukan sangat penting. Seorang yang berdedikasi akan datang tepat waktu. Ia tetap bertugas sekalipun ada tawaran acara lain yang lebih menarik. Jika terpaksa tidak bisa datang, ia sudah mempersiapkan pengganti. Tanpa dedikasi, seorang pelayan ibadah dapat menjadi pengganggu ibadah.
2. Pelayan Ibadah perlu ikut beribadah. Pemimpin ibadah harus menenggelamkan dirinya sendiri dalam ibadah. Ia tidak boleh bersikap seperti wasit yang hanya mengamati orang bermain bola tanpa ia sendiri ikut terlibat bermain!
Menghidupkan ibadah ternyata tidak sulit. Cukup dengan memakai liturgi yang ada, yang dikelola dengan serius.



DAFTAR PUSTAKA
Allmen,J-.J von. Worship: Its Theology and Practice. London: Lutterworth, 1965.
Bower, Peter C., Ed. The Companion to The Book of Common Worship (Louisville: Geneva Press, 2003), 23.
Davies, J.G & A.Raymond George, Eds. The Worship of The Reformed Church. Richmond: John Knox Press, 1966.
Duck, Ruth C. Finding Words For Worship: A Guide for Leaders. Louisville: Westminster John Knox,1995.
Erickson, Craig Douglas. Participating in Worship: History, Theory, and Practice, Louisville: Westminster/John Knox, 1998.
Fletcher, Jeremy & Christopher Cocksworth. The Spirit and Liturgy. Cambridge; Grove Books, 1998.
Johnson, Susanne. Christian Spiritual Formation in the Church and Classroom. Nashville: Abingdon Press, 1989.
Keifert, Patrick R.. Welcoming The Stranger: A Public Theology of Worship and Evangelism. Mineapolis: Fortress Press, 1992.
Leech, John. Living Liturgy. Eastbourne: Kingsway Publications, 1997.
Rice, Howard L. & James C.Huffstutler. Reformed Worship. Louisville: Geneva Press, 2001.
Ramshaw, Elaine. Ritual and Pastoral Care. Philadelphia: Fortress, 1987.
Urban, Linwood. Sejarah Singkat Pemikiran Kristen. Jakarta: SPK Gunung Mulia, 2003.
Vatican Council II. The Constitution on the Sacred Liturgy.
White, James F. Introduction to Christian Worship: Third Edition. Nashville: Abingdon, 2000.
Willemon, William H. The Service of God: How Worship and Ethics Are Related. Nashville: Abingdon, 1990.

No comments:

Post a Comment